Raja dan Musik yang dicintainya

Aku adalah seorang raja yang mencintai musik.

Setiap pagi dan petang, sebelum memutuskan perkara kerajaan, aku duduk di balairung istana dan memerintahkan 600 pemain musik memainkan simfoni terbaik mereka. Bukan sekadar hiburan musik itu adalah napas istana, harmoni yang mencerminkan ketertiban dan kesungguhan hati para pelayan kerajaan.

Bertahun-tahun aku mendengar alunan yang megah. Gesekan dawai, tiupan lembut, denting perkusi semuanya menyatu indah.

Namun suatu hari, tanpa kusadari, ada satu nada yang hilang.

Salah satu pemain musik ternyata lupa bagian yang harus ia mainkan. Dengan wajah tenang namun hati gemetar, ia hanya memegang instrumennya dan berpura-pura bermain. Tak ada suara keluar dari alatnya. Lagu tetap terdengar megah karena 599 lainnya tetap setia memainkan bagian mereka.

Aku tidak menyadarinya.

Hari itu berlalu tanpa teguran.
Dan di sanalah benih kelalaian mulai tumbuh.

Keesokan harinya, pemain itu kembali datang. Ia bahkan tidak sempat berlatih. Dengan keyakinan bahwa ketidakbisaannya kemarin tak terdeteksi, ia kembali berpura-pura memainkan alat musiknya.

Seorang pemain di sebelahnya melihat.

“Untuk apa aku bersusah payah menghafal, berlatih, dan menjaga kualitas, jika dia bisa berdiri tenang tanpa memainkan apa-apa dan tetap aman?” pikirnya.

Hari berikutnya, ia pun melakukan hal yang sama.

Dan begitu seterusnya.

Kelalaian yang tak ditegur berubah menjadi kebiasaan.
Kebiasaan berubah menjadi budaya.

Beberapa hari kemudian, bukan satu atau dua, tetapi hampir 70 orang hanya berpura-pura memainkan musik di hadapanku. Mereka berdiri dengan gerakan yang tampak meyakinkan, namun tanpa kontribusi nyata.

Harmoni itu mulai terasa kosong.

Sebagai raja, aku akhirnya menyadarinya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Megah di luar, namun hampa di dalam.

Dan ketika kebenaran itu terungkap, aku tidak hanya marah aku berduka.

Bukan karena musiknya kurang indah.
Tetapi karena integritas para pemainku mulai retak.

Satu orang yang berpura-pura mungkin terdengar kecil.
Namun ketidaksetiaan yang dibiarkan akan menular.
Apa yang tidak ditegur akan dianggap benar.
Apa yang ditoleransi akan menjadi budaya.

Pesan dari Sang Raja

Kerajaan tidak runtuh karena musuh dari luar,
melainkan karena kelalaian dari dalam.

Satu orang yang memilih berpura-pura bisa menjadi awal keruntuhan disiplin bersama. Ketika integritas hilang, kehancuran hanya menunggu waktu.

Firman Tuhan berkata:

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”
— Lukas 16:10

“Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan.”
— Galatia 5:9

Kelalaian kecil yang dibiarkan dapat memengaruhi seluruh komunitas.

Sebagai raja, aku tidak membutuhkan kesempurnaan.
Aku membutuhkan kesetiaan.

Karena harmoni sejati bukan ditentukan oleh seberapa keras suara yang terdengar, tetapi oleh setiap pribadi yang dengan tulus memainkan bagiannya—meski merasa kecil dan mungkin tak terlihat.

Sebab pada akhirnya,
bukan hanya musik yang terdengar di telingaku tetapi hati para pemain yang terlihat oleh Tuhan.