Rumah Terakhir

SmadaArtspace


Rumah Terakhir

Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang tukang bangunan yang dikenal karena ketekunan dan loyalitasnya. Selama puluhan tahun, tangannya telah membangun puluhan rumah—rumah-rumah yang kokoh, rapi, dan penuh kualitas.

Ia bukan hanya bekerja demi upah. Ia bekerja dengan hati.
Setiap dinding ia ukur dengan cermat.
Setiap paku ia pasang dengan teliti.
Setiap sudut ia periksa kembali sebelum menyerahkannya kepada pemilik rumah.

Tak heran, para pelanggan selalu puas.
Dan sang BOS, yang telah lama bekerja bersamanya, merasa bangga memiliki pekerja sepertinya.

Waktu berlalu. Rambutnya mulai memutih. Tenaganya tak lagi sekuat dulu.
Suatu hari, ia memberanikan diri menemui BOS dan menyampaikan bahwa ia ingin pensiun. Ia ingin beristirahat, menikmati hari tua bersama keluarga dengan tenang.

Sang BOS terdiam sejenak. Ada rasa kehilangan di hatinya. Namun ia menghargai keputusan itu.

“Tolong satu rumah lagi,” kata BOS dengan lembut.
“Rumah terakhir… sebelum kamu benar-benar berhenti.”

Permintaan itu membuat hati si tukang bangunan sedikit berat. Ia sudah membayangkan hari-hari santai tanpa debu semen dan suara palu. Namun karena rasa hormat dan loyalitasnya, ia tidak menolak.

Ia mulai membangun.

Namun kali ini berbeda.

Tangannya tetap bekerja, tetapi hatinya tidak lagi sepenuhnya di sana.
Ia ingin cepat selesai.
Beberapa detail yang biasanya ia periksa berulang kali, kini ia biarkan.
Material yang biasanya ia pilih dengan hati-hati, kali ini tidak terlalu ia perhatikan.

Rumah itu tetap berdiri. Dari luar tampak baik-baik saja.
Tetapi tidak dibangun dengan kualitas terbaik seperti sebelumnya.

Akhirnya selesai.

Dengan perasaan lega, ia menyerahkan kunci rumah itu kepada BOS.

BOS menerimanya dengan senyum yang hangat. Lalu perlahan, ia mengeluarkan sebuah map dari tasnya. Di dalamnya terdapat akta tanah dan surat kepemilikan rumah itu.

BOS menyerahkan kembali kunci tersebut ke tangan si tukang bangunan.

“Rumah ini adalah hadiah untukmu,” katanya.
“Sebagai tanda terima kasih atas puluhan tahun kerja keras dan kesetiaanmu.”

Dunia seakan berhenti.

Jantungnya berdegup keras.
Tangannya gemetar menerima kembali kunci itu.

Rumah yang ia bangun dengan setengah hati…
adalah rumah yang akan ia tempati sendiri.

Penyesalan menyelimuti hatinya.
Seandainya ia tahu…
Ia pasti akan membangun dengan kualitas terbaik.
Ia pasti akan mengerjakannya dengan sepenuh hati seperti rumah-rumah sebelumnya.


Pesan Reflektif

Sering kali kita menganggap sesuatu hanya sebagai “tugas terakhir”, “pekerjaan biasa”, atau “sekadar kewajiban”. Namun kita tidak pernah tahu bahwa apa yang sedang kita bangun hari ini bisa menjadi berkat, masa depan, bahkan warisan bagi diri kita sendiri.

Alkitab mengingatkan:

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
— Kolose 3:23

Dan juga:

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.”
— Matius 25:21

Tuhan melihat bukan hanya hasil akhir, tetapi hati dalam setiap proses.
Kesetiaan tidak diukur dari kapan kita berhenti, tetapi dari bagaimana kita menyelesaikan setiap bagian dengan integritas.

Jangan pernah menurunkan kualitas hanya karena merasa itu adalah “yang terakhir”.
Karena bisa jadi…
yang terakhir itulah yang paling menentukan.